WELCOME

My Photo
A man who dreams of myth and reality at the same time..

23.5.12

DUPA

Ia berasal dari menggerigi buliran pasir, terbentuk meninggi, ngeriap ganjil.
Tinggal mengelotok di dataran padi dan kapas, kakinya macam satu, menancap
di wadah besi bermuara banyak--Takhlik asap cerutu oriental, bumbu paritta.
Terbagi dari klan kuku macan dan naga; masing-masing bersisik sengat pualam,
setiap kesalahan menghantui telur-telur emas mereka--sampai digodok matang
di kuali, memasaknya hingga melepuh merah karena malu dan lantang.

Sang Mungkin Peninggi menghujat dan merobek dadanya. Sinis evaluasi kompeni.
Di dalam daripadanya hanya sebatang lidi putih, lahir dari pelepah-pelepah kelapa,
sama-sama satu bidang, macam padi dan kapas--sama-sama tananam cucuk kerbau!
Lalu terlempar dirinya ke tanah kembali, apinya terus membakar hidup-hidup!
Masih percaya akan kembali ke wadah besi itu, masih senang dengan canda-gurau
penguasa bidang tanah merah, di dataran otoritas samudra hindia belantara kata.

Kembalilah ia mengungkap kilatan dejavu hitam-putih, dibelainya perlahan-lahan,
membuai kenangan macam melakukan masturbasi. Berdiri kokoh masih terbakar
dengan sorot mata pemberani, seakan-akan ia bukanlah paduan pasir lagi tetapi,
bijih tembaga dan rubi permata, bangsawan angkuh dari aristokrat berabad-abad.

Sekali lagi ia memaparkan bulan di antara himpitan asap yang ia ciptakan,
membuyarkan bayangan di sekitar, semua orang menangis karena menatapinya.
Masih berdiri kokoh macam pagoda, masih membakar macam merapi. Abadi!
Tidak ada yang bisa membunuh apinya kecuali kalau memang ia mau mati sendiri!
Jangan sia-siakan waktumu, kawan. Yakin mau membunuhnya?
”Kamu punya api?”

25 Februari 2009
ALEX JHON - PROSA LYRIK

GRAVITASI

Kegelapan sudah meliputi kita berdua, sudah telat untuk terbang bersama.
Di dalam bayangan dua anak kecil, di dalam warna-warni yang tak terlihat,
di mana engkau pernah turun memangku tangan dan berujar kuat,
”Datanglah padaku, telanjangi dan warnailah tubuh polosku ini...”
Ya, aku mengingatnya di dalam rintik hujan seperti sekarang, sesayup deras.

Sekarang jangan lagi engkau bernafas ketika memasuki kerajaanku karena,
udara di sini amat tipis, gravitasi di sini amat rapuh. Sekali hembusan
kita bisa mati bersama, apa engkau mau itu, teman? Aku tidak mau... lagi.
Sudah cukup aku merangkul bayanganmu di atas kapal angin.
Sekarang aku yang butuh ditelanjangi, diwarnai warna Sang Kosmos;
semuanya hitam tetapilah kuat. Setiap helai dari uratku adalah matahari,
setiap hembusan nafasku adalah bukan dirimu, melainkan penguasa gravitasi!

Sudah cukup, sudah! Aku tidak mau lagi engkau hasut dalam tata surya percuma!
Aku adalah Dewa jagad raya, sekali berucap, sebuah bintang dapat hancur
berkeping-keping bak kehilangan muka dan lebih baik mampus.
Kamu juga dewa jagad raya, kita berdua memang dewa... aku tahu itu...
Tetapi, aku sudah tidak bisa melihat mataharimu, aku hanya bisa menatap
satu buah lubang hitam yang tepat berada di pusat galaksimu, di sana,
di tempat engkau bermain pedang dan kembang api. Aku sudah tidak lagi peduli—

Kegelapan sudah meliputi kita berdua, sudah telat untuk turun bersama.
Di dalam bayangan dua orang dewasa, di dalam warna-warni yang sudah terlihat,
engkau memangku terang yang gelap sedangkan aku memeluk gelap yang terang.
Ya, di sinilah aku meninggalkanmu, di sinilah perbedaan kita sekarang;
”Karena engkau sudah kehilangan kekuatan untuk mengontrol gravitasimu sendiri”.
Maafkan aku, aku sudah tidak bisa menangisi dewa mati.

23 Februari 2009
ALEX JHON - PROSA LYRIK

KAFEIN

Semalam kuteguk segelas kopi hitam, kukira sayangku-lah yang membuatnya,
tetapi aku tidak mempunyai kekasih. Aku itu lali tentangnya.
Lagipula aku tidak suka kopi. "Jadi, siapa yang membuatkan aku kopi?"

Semalam itu, yang aku rasakan; getirnya terlalu kuat! Mataku loncat,
seluruh jariku terbakar! Sekarang aku terkapar... Diriku jadi mayat,
di tengah hamparan rawa bertakjub kabut berbau mawar dan jeruk limau.

Mataku buta, karena aku meminumnya, karena aku percaya pada hatinya,
karena aku menelan ampasnya, dialah racun yang membuatku membelalak mata;
sampai segar, enggan mati, lalu berdiri tegap, berazimat rada kalap!

Saat bangkit, kucoba menghitung sulur-sulur berlumut, aku coba mencongkel
satu-persatu dengan jari tengah, Lalu apa? Yang aku dapatkan hanyalah lumpur-lumpur basah!
Kuminumlah lumpur tersebut, kuanggap itu kopi. Biar saja, Orang Gila!
Aku sudah kembung, sudah kebal, sudah terbiasa akan mata melotot,
kejang-kejang, kontraksi otak. Nah, lihat! Aku jadi mayat lagi.
Belum lama aku bisa bangkit berdiri, meludahi seluruh batu di rawa ini,
belum lama! Tidak adil benar. Aku harus pura-pura mati lagi?
Aku tidak suka kopi! Kafein membuatku melarat! Keparat! Keparat!

22 Februari 2009
ALEX JHON - PROSA LYRIK

HYDROQUINONE

Ajaibnya dia merangsang pigmen emosi lebih cerah per hari,
membuat kenangan seakan-akan abadi dan fleksibel,
lentur untuk dibongkar pasang dalam teka-teki Aphrodite.
Ajaibnya aku percaya bahwa dia akan membuatku utuh,
menjadikanku sang perawan, menjadikan sang tertawan.
Aku memerlukannya seperti sepenggal daun ganja,
seperti bajingan memerlukan pukulan keras di kepala!
Ah! Kalau sudah aku tertipu, aku bagai diombang-ambing angin
macam layangan aku terbang, macam enteng benar aku ini!

Kiranya dia harus sadar, aku butuh sapuannya per hari
karena jika tidak, aku seperti bergantung pada pasak
siap-siap mati--bergerak sedikit, sudah mampus aku ini.

Aku tidak berbicara dengan satu benda, aku berbicara
pada orang mati, yang dijatuhi kutukan dari bukan orang.
Aku tidak mau bersujud pada sesuatu yang bukan dewa,
bukan dewa yang tidak mau aku sujud, tapi aku mau
dia bisa membuatku bersujud. Seperti aku kena kutuk;
macam aku bisa dikutuk untuk selamanya bengkok membungkuk!

Di mana dia? Sekarang tidak jelas, ha ha ha aku dipecut tenang.
Setiap hari hanya bisa merasakan gatal perih merata
di sekujur rupa dan dada; aku adalah manusia terjelek, jelek!
Aku enggan melihat cermin, brengsek! Brengsek! Buang jauh-jauh!
Sekarang aku tertidur di pojokan galaksi antah berantah,
menunggu sampai dia datang menjemput atau.. sampai aku bisa
mendengar suara letusan senapan setelah aku mati.

13 Februari 2009
ALEX JHON - PROSA LYRIK

SIREN

Pasak kayu berdiri tegap di tengah antah-berantah, lelautan biru.
Sekuncup bunga menari kupu-kupu, kelopak-kelopaknya menyebar dan melebar;
ujung-ujungnya meniti pelit pada permukaan air, mereka berkaca-kaca pada riak.
Ah! Tersayang, bunga itu tak mampu meminum dengan kelopak-kelopaknya.
Pasak kayu berdiri tegap di bawah langit nan jingga, firdaus tanpa ular.
Sekuncup daun semburat sembunyi di balik kelopak-kelopak persona, minim;
menemani desahan urat nadi kelopak, menemani dan bersembunyi di ketiak bunga.
Tertidur, daun itu menjadi bunga, bahkan jika ia membusuk, ia tetap bunga!

Di sana, di lautan itu, Engkau tidak sendiri. Mereka hanya bersembunyi!
Tukang kebun, penjual bunga, bahkan pembasmi hama. Semua hadir untukmu.
Semua adalah milikmu. Engkau adalah siren mereka, yang melantunkan lagu sedih.
Lagu sedih melirih. Dan mereka semua berjanji bisa bernyanyi bersamamu.

Ah, sembunyikanlah kelopak-kelopakmu itu. Sayang teramat, kau pun juga
tidak bisa menelan mereka, bukan? Buat apa Engkau pedulikan mereka?
Engkau itu murni bunga, bukan Rafflesia. Kamu itu pusat getaran air.
Kamu itu gelombang tektonik. Sedang apa menyembunyikan daun itu lagi?
Sini, berikan padaku, akan kuberi warna biar seindah warna aslimu.

Sekarang... Apa aku masih seorang pekerja ataukah pelaut sejati bagimu?
Sayang, tak perlu membasahi tilas bibirmu. Diamlah di sana, dan akan
kulukiskan mentari senja sebagai latarmu, lautan sebagai pijakanmu,
pasak sebagai apapunmu, dan daun sebagai kelopakmu. Engkau adalah..
Bunga terindah yang pernah kulihat. 

18 Mei 2009
ALEX JHON - PROSA LYRIK

KUMAN

Mereka bernaung dan berdoa, meriuhkan suasana berpesta
dan mabuk membantai yang bukanlah kaum Gehenna.
Memuja sangat, sampai penis meronta-ronta minta disembelih
agar bisa dielu-elukan gemanya membesar ke hadapan
para pegunungan tinggi; fatamorgana persepsi. Tipuan! Tipuan!
Satu lebih banyak daripada sepuluh, ataupun enam naga.
Mencoba mencabulkan semua naga menjadi para Gehenna
Sekiranya mereka tertawa menang, tak lain tercemas lirih.

Bedebah tengah memisahkan lautan dan membuat dinding
Sekeras baja dan setumpul kertas. Bebal gentong nyaring.
Mungkin ada! Mungkin ada! Persepsi penyatuan para naga
agar naga-naga tunduk sebuah gunung, menciumi hingga luruh
dan ombak lilin meleleh menenggelamkan mereka sehingga
para kaum Gehenna menari-nari di atas para mayat sembelih.
Lalu, menyembahkan darah para naga kepadanya, Dybbuk.

Mereka akan menenggelamkan satu persatu dan meneriakkan
kata-kata sambil menelan hati para naga, satu persatu…
Mencoba melepah dan menelan setiap jengkal ladang surga
dari orang-orangan punggung naga; menerkam dengan
persepsi tersebut… Persepsi sekeras baja dan setumpul kertas.
Hanya otot, darah dan daging. Semuanya fana. Semuanya!

Mungkin para Gehenna harus disimpan rapat-rapat dalam
dunia yang; api adalah air, bangkai adalah jubah, darah adalah udara.
Mungkin setelah itu mereka mau sadar bahwa, mereka hanya manusia;
bukanlah dewa, bukanlah pesuruh apalah, bukanlah pengantar pesan,
Yang jelas, tidak ada untungnya menjadi mereka. Toh mereka yang
bertabir emas itu hanya persepsi, biarlah hanyut lebur membusuk.
Mereka hanya manusia, tetapi lebih rendah dari ternak potong.
Mereka hanyalah kuman bergema nyaring hampa di atas para naga.

5 Agustus 2010
ALEX JHON - PROSA LYRIK

SPIRAL

Kawat berduri melilit dan menggantung tetapi, aku tidaklah mati…
Aku hidup karena tidak bisa merasakan sakit, mengapa? aku bisu!
Sepatah kata seperti beban berat; Ingin menancap paku tetapi
tanah terlalu jauh dari pijakan. Meludah tak sampai basah,
menusuk kulit seperti terbius tengah-tengah bercinta sepah.
Binalnya kawat berduri melilit habis, tebas api dan angin, meraung.
Satu persatu tiap sengketa tumbang bagai rumput patah tulang.

Yang disebut sebagai mayat adalah bukanlah yang terpaku diam
tetapi, kepada yang hidup namun tak berujar dan bersikap.
Matinya hidupmu adalah kelopak yang tidak mau berkembang,
walaupun sinar memperkosanya tetapi tak satu pun helai
yang rontok dari pijakan. Tak runtuh dari rajam dan tusuk.
Aku adalah yang bukanlah mayat tersebut. Lihatlah! Aku masih
diam tak berucap tetapi, mataku berotasi dan nafasku membelah
debu-debu di bawah dan angin-angin di sekitar. Meraung anjing.

Semakin lama kawat berduri menjilati seluruh lapisan leherku,
Aku tidak merasakan sakit, hanya dapat mendengar endapan
pori-pori kulit mendefinisikan arti kata bebal dan sontoloyo.
Menerima setiap suapan nasi basi dan sampah busuk dari semua
yang berlalu lalang--yang tidak bereaksi melepaskan ikatan--
hanya memberikan makanan, tanpa memberikan minuman.
Aku bukan hiburan! Aku bukan hiburan! Aku butuh disanggah!

Ah! Aku bisa gila! Kawat berduri ini semakin membuatku meringis
karena aku buta, karena aku tuli, karena aku bisu!
Semua hal tentanglah pintu yang menjadi masa depan,
dari pelepasan hukuman gantung dan juga, dari
segala macam mati rasa dan kepala batu.

4 Agustus 2010
ALEX JHON - PROSA LYRIK

8.4.12

WELCOME TO ALEX JHON'S BLOGSITE

Welcome to Alex Jhon's official blogsite, this blog is a temporary replacement site for any information, connection about and regarding Alex Jhon and his works in writing and other things.

Warm regards,
ALEX JHON